Anjay dalam Belantara Bahasa

- 2 September 2020, 08:11 WIB
Salehudin Fauzi (pemerhati bahasa) /

Oleh: Salehudin Fauzi (Pemerhati Bahasa)

Pada suatu ketika Nasruddin Khodja pernah telihat sibuk mencari-cari sesuatu di depan rumahnya. Setelah beberapa saat, tetangga yang melihatnya merasa heran, hingga malam tiba Nasruddin Khodja masih seperti kebingungan di depan rumahnya. Karena penasaran, sang tetangga menanyakan apa gerangan yang Khodja cari sehingga tak kunjung ketemu.

“Hey Khodja apa gerangan yang kau cari sehingga seharian kau tak menemukannya?” Tanya sang tetangga. “Saya sedang mencari cincin yang jatuh” jawab Khodja enteng. “kamu yakin cincinnya jatuh di sekitar halaman depan rumah ini?” tetangga Khodja mengungkapkan keherannya. “Jarumnya jatuh di kamar, tapi karena kamarnya gelap aku mencarinya di depan rumah yang lebih terang” jawab Khodja.

Baca Juga: Jadwal Acara TV Hari Ini, Rabu 2 September 2020 di RCTI dan SCTV: Anak Jalanan Hingga FTV

Meskipun beberapa buku menceritakan riwayat yang berbeda yang dicari ada jarum hingga paku tapi hal esensialnya tetaplah sama. Ia kritis dengan cita rasa humor yang tinggi ia cerdas juga jenaka.

Entah kenapa saya merasa bahwa sindiran sang Mullah Khodja selalu kontekstual bahkan untuk kasus yang akhir-akhir ini ramai pengucapan kata anjay. Ia sedang menyindir kita atau siapapun yang ingin menyelesaikan masalah dengan mencari jalan mudah namun bukan pada tempat permasalahan itu berada. Saya merasa kata anjay seperti ditarik dari belantara bahasa dipaksa dibawa ke tengah-tengah kota untuk diadili hanya agar dengan cepat dalam mengadili berbahasa kita.

Baca Juga: Lokasi SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Rabu 2 September 2020

Perbedaan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling paripurna dibandingkan dengan mahluk lain, salah satunya, ialah karena kemampuan berbahasa.

Secara sederhana, hal tersebut dapat dipahami karena bahasa merupakan media komunikasi paling efektif bahkan jauh sebelum tulisan ditemukan. Bahasa merekam segala hiruk pikuk dalam kehidupan dari drama hidup percintaan hingga drama lucu perpolitikan. Ekspresi keseharian kita nyaris semua terungkapkan dalam  bahasa, termasuk kemarahan dan kebahagiaan.

Halaman:

Editor: Agus Satia Negara


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Tiga Prinsip Penanganan Wabah

29 September 2020, 13:35 WIB

Tuntutan Dunia Kerja Perikanan

29 September 2020, 10:03 WIB

Tujuh Tingkatan Nafsu

13 September 2020, 01:11 WIB

Anjay dalam Belantara Bahasa

2 September 2020, 08:11 WIB

Post Power Syndrome

31 Agustus 2020, 16:44 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X