Usai Divonis 7 Tahun Penjara, Imam Nahrawi Kecewa dan Bersumpah Tak Pernah Terima Suap

- 30 Juni 2020, 08:44 WIB
MANTAN Menpora, Imam Nahrawi.*

 

FIXINDONESIA.COM - Tersangka kasus penerima suap senilai 11,5 miliar dan gratifikasi sebesar Rp18,348 miliar dari sejumlah pejabat Kemenpora dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sekaligus mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi divonis 7 tahun penjara oleh majelis hakim, dalam persidangan di Jakarta, Senin, 29 Juni 2020.

Secara rinci, Imam divonis 7 tahun penjara ditambah denda Rp400 juta subsider 3 bulan kurungan.

Usai putusan, Imam mengungkapkan kekecewaannya dikarenakan nota pembelaannya sama sekali tidak jadi pertimbangan putusan hakim. Dalam nota tersebut, Imam menuturkan mengajukan diri sebagai yang bekerjasama dengan penegak hukum (justice collaborator) guna membongkar aliran dana Rp11,5 miliar yang tidak dirinya nikmati.

Imam pun mengucap sumpah atas nama Allah dan rasul-Nya, dia menyatakan tidak pernah menerima uang suap sebagaimana yang didakwakan.

Baca Juga: Latihan di GBLA, Pelatih Persib: Kami Sudah Kantongi Izin.

"Kami meminta agar yang mulia menindaklanjuti Rp11,5 miliar aliran, karena saya demi Allah demi Rassulullah tidak menerima Rp11,5 miliar itu. Beri kesempatan saya memperdalam dan saya harus beristighfar dan minta pertolongan Allah, kami maafkan JPU, penyelidik, penyidik, pimpinan KPK dan majelis yang mulia untuk jadi pelajaran," ujar Imam, seperti Pikiran-rakyat.com kutip dari Antara.

Dalam artikel Pikiran-Rakyat.com berjudul "Hakim Vonis 7 Tahun Penjara, Imam Nahrawi Bersumpah 'Demi Allah' Tidak Terima Suap" yang dikutip fixindonesia, dia pun meminta waktu pikir-pikir selama 7 hari.

"Kami akan pikir-pikir dan tentu kami berusaha keras agar Rp11,5 miliar dana KONI ini bisa kita bongkar bersama-sama," ujar Imam.

Dakwaan pertama, mantan Menpora tersebut beserta asisten pribadinya Miftahul ulum dinyatakan terbukti menerima uang sebesar Rp11,5 miliar dari Sekjen KONI Endang Fuad
Hamidy dan Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy.

Halaman:

Editor: Rinda Suherlina

Sumber: Pikiran Rakyat, ANTARA


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X